“kamu enak udah SUKSES… rumah besar, mobil bagus, usaha mulus.” Begitu komentar
seorang sahabat diacara reunian sekolah
“Aku?!” lanjutnya mashgul, “boro-boro mobil, rumah aja masih ngontrak.”
“bagaimana mungkin kebeli rumah sebesar rumahmu, nah suamiku aja cuma staf
biasa, gali lubang tutup lubang setiap bulannya.” Keluhnya lagi
“Mau usaha buat bantu perekonomian keluarga ga mungkin, modal ga ada,
anak-anakku masih kecil.” Wah sepertinya aku tak punya kesempatan untuk
berbicara, dia terus menceritakan penderitaan demi penderitaan, kesusahan demi
kesusahan.











