“Dua puluh lima
tahun lalu, saya terkejut dengan informasi yang disampaikan dokter, payudara sebelah
kanan saya harus diangkat, TIDAK BISA DITAWAR. STADIUM 3 B.” Bu Dinda memulai kisahnya, saya
memperhatikannya dengan takjub. Diusianya yang sudah mulai senja, memasuki
kepala 6, BELIAU masih sangat segar seperti masih 40-an tahun.
Pertanyaan
pertama yang sempat terlontar dari bu Dinda adalah, MENGAPA SAYA ya ALLAH? Gaya
hidup saya sangat sehat……..saya berolahraga rutin…………..saya rajin kontrol ke
dokter……saya juga menjaga makanan saya. Begitulah protesnya pertama kali.
Beberapa hari airmatanya seperti tak pernah kering, dalam doa ia menangis,
dalam sujud juga tumpah airmatanya, bahkan dimeja makanpun sering tak bisa mengendalikan airmatanya yang
mengalir, sepertinya airmata itu tak lagi punya kendali untuk berhenti. Untuk
wanita yang belum menikah, kabar itu seperti petir disiang bolong. Nyaris
depresi memikirkan akan kehilangan salah satu simbol kebanggaan wanita.
Alhamdulillah
bu Dinda berhasil keluar dari peliknya pengalaman mengendalikan perasaan
negatifnya. Hingga kemudian ia kehilangan sebelah payudaranya dan menjalani
serangkaian proses penyembuhan yang tidak hanya menguras keuangan, melainkan
juga menguras mentalnya. Bukan hal mudah
keluar dari kondisi depresi karena menderita kanker. Telah banyak wanita yang
memilih depresi berkepanjangan, juga tidak sedikit yang memilih mengakhiri
hidupnya daripada harus menerima penyakit itu.